This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Monday, May 14, 2012

Hakikat Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) (CIRC)

Assalamu'alaikum...
Mayasa©. Perlu upaya lebih dari kita sebagai pendidik dalam usaha meningkatkan pemahaman siswa. Salah satu usaha tersebut dapat kita lakukan dengan mempelajari dan tentunya menerapkan berbagai metode pembelajaran inovatif yang mampu memberdayakan potensi yang dimiliki siswa. Kali ini saya akan menguraikan salah satu metode pembelajaran yang patut dijadikan pilihan dalam pelajaran Bahasa, baik bahasa Indonesia atau bahasa yang lain.
Seperti yang tertulis sebagai judulnya, metode tersebut adalah metode CIRC. Untuk lebih mengenal metode CIRC tersebut, mari kita simak penjelasannya berikut ini...
    penjelasan guru, CIRC, metode Inovatif
  1. Pengertian Metode Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC)
  2. Metode CIRC merupakan salah satu metode pembelajaran kooperatif yang diperuntukkan bagi siswa sekolah dasar hingga menengah pertama (kelas 2-8). Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) merupakan program pembelajaran komprehensif untuk mengajarkan membaca dan menulis pada siswa kelas dasar pada tingkat yang lebih tinggi dan juga pada sekolah menengah (Slavin, 2008: 16). Selain itu, metode pembelajaran CIRC merupakan kurikulum komprehensif yang dirancang untuk digunakan dalam pelajaran membaca pada kelas 2-8 (Slavin, 2008: 11).

    Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) is a school based program that targets reading, writing, and language arts in grades 2 through 6. The three principle program elements are direct instruction in reading comprehension, story-related activities, and integrated language arts/writing instruction. Each student is paired with another student and then assigned to a group of students at the same or different reading level. These learning teams work cooperatively on program-related activities
    . (http://www.howardhealthcounts.org/modules.php, diakses tanggal 26 Januari 2011).

    Sumber di atas kurang lebih mengungkapkan mengenai definisi dari CIRC, bahwa CIRC merupakan program sekolah yang mendasarkan pengajarannya pada membaca, menulis dan seni berbahasa pada tingkat 2-6. CIRC memiliki tiga prinsip dasar, yaitu kemampuan membaca pemahaman, membaca lisan, dan integrasi seni berbahasa/menulis. Setiap siswa berpasangan dengan siswa yang lain kemudian bergabung dalam satu tim yang heterogen.

    CIRC are currently in use, a common method involves forming “learning teams” made up of students (usually four) who are at varying levels of reading proficiency. These students work on different cooperative activities, including creative writing, peer reading, identification of major elements in a story, summarizing of stories and story retelling, and activities geared toward practice of basic reading skills (e.g., spelling, decoding, and vocabulary).
    (Canadian Council on Learning, 2009: 4)

    Sumber diatas dapat diartikan bahwa CIRC yang akhir-akhir ini digunakan, merupakan metode umum yang meliputi pembentukan tim belajar (biasanya empat siswa) pada level kemampuan membaca yang berbeda-beda. Siswa-siswa tersebut bekerja dalam aktivitas kerjasama yang berbeda, termasuk aktivitas penulisan kreatif, membaca dalam kelompok, pengidentifikasian elemen utama dalam cerita, dan penceritaan kembali isi cerita dan aktivitas yang diarahkan menuju praktek kemampuan membaca yang paling dasar (meliputi pelafalan, penerimaan, dan kosakata) (Canadian Council on Learning, 2009:4).

    CIRC, sebuah program yang komprehensif untuk mengajari pembelajaran membaca, menulis, dan seni berbahasa pada kelas yang lebih tinggi di sekolah dasar (Slavin, 2008:200). Pengembangan CIRC difokuskan pada metode-metode pengajaran, merupakan sebuah usaha untuk menggunakan pembelajaran kooperatif sebagai sarana memperkenalkan teknik terbaru dalam pengajaran praktis pembelajaran membaca dan menulis. Pendekatan pembelajaran kooperatif menekankan tujuan-tujuan kelompok dan tanggung jawab dari tiap individu.
    Berdasarkan uraian di atas dapat ditarik simpulan bahwa Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) merupakan salah satu jenis metode pembelajaran kooperatif yang dirancang khusus untuk pembelajaran membaca dan menulis secara komprehensif yang diterapkan pada kelas 2-8 (dari sekolah dasar sampai menengah pertama).

  3. Fokus Utama Metode CIRC
  4. Satu fokus utama dari kegiatan-kegiatan CIRC sebagai cerita dasar adalah membuat penggunaan waktu tindak lanjut menjadi lebih efektif. Para siswa yang bekerja di dalam tim-tim kooperatif dari kegiatan-kegiatan ini, yang dikoordinasikan dengan pengajaran kelompok membaca, supaya dapat memenuhi tujuan-tujuan dalam bidang lain seperti pemahaman membaca, kosakata, pembacaan pesan, dan ejaan. Para siswa termotivasi untuk saling bekerja satu sama lain dalam kegiatan-kegiatan ini atau rekognisi lainnya yang didasarkan pada pembelajaran seluruh anggota tim (Slavin, 2008:201).

  5. Ciri-ciri Metode CIRC
  6. Di dalam pembelajaran kooperatif terdapat bermacam-macam metode pembelajaran. Salah satunya adalah metode pembelajaran CIRC yang dirancang khusus untuk pembelajaran membaca dan menulis, untuk membedakan metode pembelajaran CIRC dengan metode pembelajaran kooperatif lainnya, berikut disampaikan beberapa ciri-ciri dari CIRC, yaitu: (1) adanya suatu tujuan kelompok; (2) adanya tanggung jawab tiap individu; (3) tidak adanya tugas khusus; (4) tiap anggota dalam satu kelompok memiliki kesempatan yang sama untuk sukses; (5) dibutuhkan penyesuaian diri tiap anggota kelompok.

  7. Unsur-unsur Metode CIRC
  8. CIRC terdiri dari tiga unsur penting: kegiatan-kegiatan dasar terkait, pengajaran langsung pelajaran memahami bacaan, dan seni berbahasa dan menulis terpadu (Slavin, 2008:204). Setiap siswa bekerja dalam tim-tim yang sifatnya heterogen. Semua kegiatan pembelajaran mengikuti siklus yang melibatkan presentasi dari guru, latihan tim, latihan independen, pra penilaian teman, latihan tambahan, dan tes.
    Unsur utama CIRC terdiri dari: kelompok membaca, tim, kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan cerita, pemeriksaan oleh pasangan, dan tes (Slavin, 2008:204-208). Pembahasan mengenai unsur-unsur tersebut adalah sebagai berikut:
    1. Kelompok membaca.
      Jika menggunakan kelompok membaca, siswa dibagi dalam kelompok-kelompok yang terdiri dari dua atau tiga orang berdasarkan tingkat kemampuan membaca mereka, yang dapat ditentukan oleh guru. Jika tidak, diberikan pengajaran kepada seluruh kelas. 
    2. Tim.
      Siswa dibagi kedalam pasangan (atau trio) dalam kelompok membaca mereka, dan selanjutnya pasangan-pasangan tersebut dibagi kedalam tim yang terdiri dari pasangan-pasangan dari dua kelompok membaca atau tingkat. Misalnya, sebuah tim terdiri dari dua siswa dari kelompok membaca tingkat tinggi dan dua siswa dari kelompok membaca tingkat rendah. Anggota tim menerima poin berdasarkan kinerja indivudal mereka pada semua kuis, karangan, dan buku laporan, dan poin-poin inilah yang membentuk skor tim. 
    3. Kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan cerita.
      Siswa menggunakan bahan bacaan dasar atau bisa juga novel. Cerita diperkenalkan dan didiskusikan dalam kelompok membaca yang diarahkan oleh guru. Tahap-tahap kegiatannya meliputi: membaca berpasangan, menulis cerita yang bersangkutan dan tata bahasa cerita, mengucapkan kata-kata dengan keras, makna kata, menceritakan kembali cerita, dan ejaan. 
    4. Pemeriksaan oleh pasangan.
      Jika siswa telah menyelesaikan semua kegiatan ini, pasangan mereka memberikan formulir tugas yang mengindikasikan bahwa mereka telah menyelesaikan dan/atau memenuhi kriteria terhadap tugas tersebut. 
    5. Tes.
      Pada akhir periode kelas, siswa diberikan tes pemahaman terhadap cerita, diminta untuk menuliskan kalimat-kalimat bermakna untuk tiap kosakata, dan diminta membacakan daftar kata-kata dengan keras kepada guru. Pada tes ini siswa tidak diperbolehkan saling membantu. Hasil tes dan evaluasi dari menulis cerita yang bersangkutan adalah unsur utama dari skor tim mingguan siswa.
  9. Langkah-langkah Metode CIRC
  10. CIRC sebagai salah satu jenis metode pembelajaran, dalam pelaksanaannya memiliki langkah-langkah pembelajaran. Langkah-langkah pembelajaran dilakukan untuk mewujudkan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.
    Langkah-langkah metode pembelajaran CIRC yang diuraikan oleh Suprijono, terdiri dari: Presentasi, CIRC,
    1. Membentuk kelompok yang anggotanya 4 orang secara heterogen;
    2. Guru memberikan wacana/kliping sesuai dengan topik pembelajaran;
    3. Siswa bekerja sama saling membacakan dan menemukan ide pokok dan memberi tanggapan terhadap wacana/kliping dan ditulis pada lembar kertas;
    4. Mempresentasikan atau membacakan hasil kelompok;
    5. Guru membuat kesimpulan bersama; dan
    6. Penutup (Agus Suprijono, 2010:130).
Daftar Pustaka :
Agus, Suprijono. 2010. Cooperative Learning: Teori dan Aplikasi Paikem. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Canadian, Council on Learning. 2009. “Lesson in Learning”. Dalam http://www.ccl-cca.ca/pdfs/LessonsInLearning/09_23_09EN.pdf. diakses pada tanggal 21 April 2011.
http://www.howardhealthcounts.org/modules.php, diakses tanggal 26 Januari 2011
Slavin, Robert. 2008. Cooperative Learning: Teori, Riset dan Praktik. Bandung: Nusa Media.

Special thank's to Mbak Mey n' Mas Ipin.
Wassalamu'alaikum...

Sunday, May 13, 2012

CHERRY BLOSSOMS

Assalamu'alaikum...
Mayasa©. Kembali lagi ke Jepang guys...
Setelah kita berkunjung ke gunung Fuji, kali ini saya ingin mengajak anda semua untuk berkenalan dengan bunga khas negara Jepang yakni bunga Sakura. Artikel ini saya dapat dari thread sebuah forum seperti artikel Shaun the Sheep yang lalu.
Terus terang saya sangat menyukai bunga Sakura ini, namun sayang sampai sekarang saya belum pernah melihat bunga tersebut secara langsung. Bahkan saat mencoba membuat origaminya selalu gagal (T_T)
Mungkin ada yang berbaik hati membantu saya...
Bunga Sakura adalah bunga yang paling banyak dijumpai di Jepang sekaligus menjadi bunga nasionalnya. Asal-usul kata “sakura” adalah kata “saku” (bahasa Jepang untuk “mekar”) ditambah akhiran yang menyatakan bentuk jamak “ra”. Dalam bahasa Inggris, bunga sakura disebut cherry blossoms.

Warna bunga tergantung pada spesiesnya, ada yang berwarna putih dengan sedikit warna merah jambu, kuning muda, merah jambu, hijau muda atau merah menyala. 

Bunga Sakura digolongkan menjadi 3 jenis berdasarkan susunan daun mahkota:
  1. bunga tunggal dengan daun mahkota selapis
  2. bunga ganda dengan daun mahkota berlapis
  3. bunga semi ganda
Pohon sakura berbunga setahun sekali, di pulau Honshu, kuncup bunga sakura jenis someiyoshino mulai terlihat di akhir musim dingin dan bunganya mekar di akhir bulan Maret sampai awal bulan April di saat cuaca mulai hangat.
Di Jepang, mekarnya sakura jenis someiyoshino dimulai dari Okinawa di bulan Februari, dilanjutkan di pulau Honshu bagian sebelah barat, sampai di Tokyo, Osaka, Kyoto pada sekitar akhir Maret sampai awal April, lalu bergerak sedikit demi sedikit ke utara, dan berakhir di Hokkaido di saat liburan Golden Week.

Setiap tahunnya pengamat sakura mengeluarkan peta pergerakan mekarnya bunga sakura someiyoshino dari barat ke timur lalu utara yang disebut sakurazensen. Dengan menggunakan peta sakurazensen dapat diketahui lokasi bunga sakura yang sedang mekar pada saat tertentu.

Penggunaan
Daun dan bunga sakura yang sudah direndam di dalam air garam (shiozuke) dimanfaatkan untuk bahan makanan karena wanginya yang harum. sakura mochi adalah kue moci yang dibungkus daun sakura. Ada juga es krim dan kue kering rasa bunga sakura. Teh bunga sakura umumnya diminum pada kesempatan istimewa seperti pesta pernikahan. Ranting dan kuncup bunga sakura juga digunakan sebagai bahan pewarna alami.

Jenis-jenis bunga Sakura
Bila dilihat sekilas, bunga sakura nampak hampir sama satu dengan yang lainnya. Ternyata terdapat banyak macamnya, lebih dari 300 jenis. Berikut ini adalah beberapa diantaranya:

1. YAMA ZAKURA:
Ini adalah bunga sakura orisinil (asli), sebelum dilakukan berbagai hasil persilangan yang jenisnya sekarang mencapai 300 varities
2. OSHIMA SAKURA:
Walau terkesan sama2 berwarna putih seperti foto no. 1 …, namun bila dilihat dengan seksama banyak sekali perbedaannya …
3. SURUGA DAI NIOI ZAKURA:
4. SOMEI YOSHINO:
5. KOTO HIRA ZAKURA

  
6. ICHI HARA TORA NO O:
7. AMERIKA SAKURA :
8. MIKURUMA GAISHI:
9. EDO SAKURA:
10. ICHIO SAKURA:
11. CHOSYU HIZAKURA:
12. Matsumae Hayazaki Sakura:
13. BAIGOZI JUZU KAKE SAKURA:
14. KANZAN ZAKURA:
15. FUGENZO SAKURA:
16. KENROKUEN KIKU ZAKURA:
17. SHOGETSU SAKURA:
18. GYOIKO:
19. KANHI ZAKURA:

Tempat-tempat Terbaik untuk Melihat Bunga Sakura :
Daerah Kanto:
    sakura, taman Ueno
    Taman Ueno
  • Tokyo: Taman Ueno (Taito-ku), Taman Shinjuku-gyoen (Shinjuku-ku), Taman Sumida (Sumida-ku), Taman Koganei (kota Koganei), Taman Inogashira (kota Musashino)

Daerah Tokai:
    sakura, taman koganei, jepang
    Taman Koganei
  • Prefektur Gifu: Taman Usuzumi/Neodani (kota Motosu), Pinggir Sungai Shinsakai (kota Kakamigahara), Kamagatani (kota Ikeda)

Daerah Kansai:
  • Prefektur Osaka: Taman Istana Osaka (Osaka), The Mint Bureau (Osaka), Taman Expo ’70 (kota Suita)
  • Prefektur Hyogo: Taman Istana Himeji (kota Himeji), Taman Akashi (Kota Akashi), Taman Shukugawa (Nishinomiya)
  • Prefektur Nara: Taman Nara (kota Nara), Pegunungan Yoshino (kota Yoshino), Taman Kooriyamajoshi (Yamato Kooriyama)
Nah itulah beberapa jenis bunga sakura dan tempat yang tepat untuk menikmati keindahan bunga tersebut.
Pastinya setelah melihat gambar tersebut saya jadi tambah pengen untuk bisa mengunjungi dan melihat bunga-bunga tersebut secara langsung.
Mudah-mudahan bisa. Aamiin... Ya Alloh, Aamiin...

Semoga bermanfaat, wassalamu'alaikum...
source : http://www.forumkami.net/sejarah/55492-sejarah-macam-macam-bunga-sakura.html

Saturday, May 12, 2012

Hakikat Berbicara

Assalamu'alaikum...

Mayasa©. Dalam belajar bahasa ada empat aspek yang harus dikuasai siswa. Aspek tersebut adalah kemampuan mendengarkan/ menyimak, berbicara, membaca dan menulis. Setiap kemampuan tersebut mempunyai hubungan yang erat satu sama lain. Dalam meperoleh kemampuan berbahasa, biasanya melalui suatu pola urutan yang teratur, misalnya : pada masa kecil anak belajar menyimak bahasa, kemudian berbicara, sesudah itu belajar membaca dan menulis.

Untuk lebih mengoptimalkan kemampuan tersebut, perlu kita ketahui hakikat dari masing-masing aspek tersebut, harapannya dalam proses pembelajaran kita mampu memilih metode maupun media pembelajaran yang tepat.
Kali ini saya akan sedikit menguraikan hakikat berbicara.
Mari kita simak....
  1. Hakikat berbicara
  2. Menurut Tompkins (dalam Novi Resmini, 2006: 191) berbicara merupakan bentuk bahasa ekspresif yang utama. Anak-anak maupun orang dewasa lebih sering menggunakan bahasa lisan dibandingkan bahasa tulis. Anak-anak belajar berbicara sebelum belajar membaca dan menulis. Dari segi komunikasi, menyimak dan berbicara saling terkait antara satu dengan yang lain. Guru bertanggung jawab untuk menguatkan kemampuan siswa yang beragam tersebut. Namun untuk memperbaiki hal itu perlu waktu, karena sikap berubah secara perlahan dan dipengaruhi berbagai faktor, baik daridalam maupun luar sekolah. Pembelajaran di sekolah dasar perlu direncanakan dan dikembangkan oleh guru. Masa usia sekolah dasar merupakan masa yang paling baik untuk mengembangkan kemampuan berbicara siswa.

    Menurut Brown dan Yule (dalam Puji Santoso, 2007: 634) berbicara dapat diartikan sebagai kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi bahasa untuk mengekspresikan atau menyampaikan pikiran, gagasan atau perasaan secara lisan. Berbicara sering dianggap sebagai alat komunikasi yang paling penting bagi kontrol sosial karena berbicara merupakan suatu bentuk perilaku manusia yang memanfaatkan faktor-faktor psikis, psikologis dan neurologis dan linguistik secara luas.

    Banyak faktor yang terlibat di dalamnya, menyebabkan orang beranggapan bahwa berbicara merupakan kegiatan yang kompleks. Faktor-faktor tersebut merupakan indikator keberhasilan berbicara sehingga harus diperhatikan pada saat kita menentukan mampu tidaknya seseorang berbicara. Tingkat kemampuan berbicara seseorang atau siswa tidak hanya ditentukan dengan mengukur penguasaan faktor linguistik saja atau faktor psikologis saja, tetapi dengan mengukur penguasaan semua faktor tersebut secara menyeluruh. Seseorang dapat membaca atau menulis secara mandiri, dapat menyimak siaran radio sendiri. Tetapi sangatlah jarang, orang melakukan kegiatan berbicara tanpa hadirnya orang kedua sebagai pemerhati atau penyimak.

    Valette (dalam Puji Santoso, 2007: 6.34) menjelaskan bahwa berbicara merupakan kemampuan berbahasa yang bersifat sosial. Dapat dipahami orang berbicara untuk saling berkomunikasi dengan orang lain agar tercipta kerjasama dan hubungan yang baik.

    Menurut Madsen (dalam Puji Santoso, 2007: 6.35), berbicara menuntut penggunaan bahasa secara tepat pada tingkatan yang ideal. Untuk dapat bicara dalam suatu bahasa yang baik, pembicara harus menguasai lafal, tata bahasa dan kosa kata dari bahasa yang digunakan itu. Selain itu, penguasaan masalah yang akan disampaikan dan kemampuan memahami bahasa lawan bicara diperlukan juga.

    Aristoteles (dalam Helena Olii, 2010: 30), mengungkapkan menulis retorika (kepandaian berbicara) yang menyatakan bahwa terdapat tiga poin utama sebagai dasar dalam berbicara adalah topik yang dibicarakan, siapa yang diajak berbicara dan menyusun menurut urutan awal, tengah dan akhir.

    Jadi seseorang yang pandai berbicara adalah seseorang dapat menyampaikan topik secara jelas. Pembicara mengetahui siapa yang diajak berbicara agar dapat berbicara dengan baik dan benar serta berbicara harus urut dari urutan awal, tengah dan akhir. Pembicara harus menggunakan faktor psikis, psikologis dan neurologis dan linguistik dalam menyampaikan gagasannya.


  3. Pengertian dan Tujuan Berbicara
  4. Djago Tarigan (dalam Novi Resmini dkk, 2006: 193) mengungkapkan bahwa berbicara merupakan kemampuan menyampaikan pesan melalui bahasa lisan. Kaitan antara pesan dan bahasa lisan sebagai media penyampai sangat erat. Pembelajaran kemampuan berbicara dapat membantu siswa dalam menyampaikan pesan, informasi, gagasan, pikiran dan ide yang dimiliki kepada orang lain. Siswa dapat berlatih berbahasa dengan baik dan benar sesuai dengan kondisi yang dialami.

    H. G Tarigan (dalam Novi Resmini dkk, 2006: 193), menyatakan berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi–bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan, serta penyampaian pikiran, gagasan dan perasaan. Berbicara dapat menjalin komunikasi yang baik antara satu orang dengan orang lain agar tidak terjadi kesalah pahaman. Dengan berbicara mampu membuat siswa lebih percaya diri dan melatih keberanian untuk menyampaikan gagasan kepada orang lain.

    Menurut Maidar dan Mukti (1987:17), tujuan utama berbicara adalah untuk berkomunikasi. Oleh karena itu, agar dapat menyampaikan pikiran secara efektif, sudah seharusnya pembicara memahami makna segala yang ingin dikomunikasikannya. Apabila terjalin komunikasi yang baik maka akan tercipta hubungan kerjasama yang baik pula. Berbicara dapat menjadi solusi utama untuk memecahkan persoalan yang terjadi. Karena dengan berbicara yang baik seseorang akan mengetahui maksud dari apa yang telah dibicarakan.

    Djago Tarigan (dalam Novi Resmini dkk, 2006: 193) mengemukakan tujuan berbicara, yaitu:
    1. Berbicara untuk menghibur
    2. Berbicara untuk menginformasikan
    3. Berbicara untuk menstimulasi
    4. Berbicara untuk meyakinkan
    5. Berbicara untuk menggerakkan.

    Jadi dapat disimpulkan bahwa berbicara adalah mengungkapkan pikiran, perasaan dan gagasan kepada orang lain agar terjalin komunikasi yang baik antara satu orang dengan orang lain. Tujuan berbicara antara lain adalah tujuan menghibur orang, menginformasikan suatu pesan, memberikan rangsangan kepada pendengar agar melakukan apa yang dikehendaki oleh pembicara. Berbicara dapat meyakinkan pendengar agar menyakini, memahami dan menututi kebenaran dari pembicara. Berbicara dengan tujuan menstimulasi dan meyakinkan dapat menggerakkan pendengar yang mendengarkan untuk melakukan apa yang dikehendaki pembicara.
Itulah sedikit uraian mengenai kemampuan berbicara, untuk aspek berbahasa yang lain akan saya uraikan pada postingan yang lain. Oya, kemampuan berbicara tersebut menjadi objek penelitian Yustina Ari.

Pada penelitiannya, Yustina mencoba meningkatkan kemampuan bicara siswa dengan menerapkan metode Problem Based Learning. Dan hasilnya menunjukkan bahwa kemampuan bicara siswa meningkat setelah 3 siklus pembelajaran.
Semoga bermanfaat dan Wassalamu'alaikum....

Daftar Pustaka :

  • Djenar. 2009. Hakikat kemampuan berbicara. http: // larungdjenar. blogspot. com/ 2009/ 11/ hakikat- kemampuan- berbicara. html diakses tanggal 20 oktober 2011.
  • Isah Cahyani dan Hodijah. 2007. Kemampuan Berbahasa Indonesia di SD. UPI Pers: Bandung.
  • Maidar dan Mukti. 1988. Pembinaan Kemampuan Berbicara Bahasa Indonesia. Jakarta: Erlangga.
  • Olii, Helena.  2010. Public Speaking. Jakarta: Indeks.
  • Resmini, Novi. 2006. Bahan Belajar Mandiri: Pembinaan dan Pengembangan Pembalajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Bandung: UPI Pers.
  • Santoso, Puji. 2007. Materi dan Pembelajaran Bahasa Indonesia SD, Cetakan ke 8. Jakarta:  Universitas Terbuka.

    Friday, May 11, 2012

    Pembelajaran Bahasa Indonesia

    Assalamu'alaikum....
    bahasa Indonesia, hakekat bahasa indonesiaMayasa©. Salah satu mata pelajaran yang harus dikuasai siswa, khususnya siswa sekolah dasar adalah mapel Bahasa Indonesia. Dan tentunya mapel Bahasa Indonesia dapat dijadikan salah satu pilihan dalam menyusun skripsi selain mata pelajaran IPA dan Matematika.

    Tentunya selain untuk penyusunan skipsi, pengetahuan mengenai mapel ini juga berguna bagi guru/ calon guru untuk mengoptimalkan kemampuan siswa.

    Jadi postingan ini akan membahas mengenai pengertian Bahasa Indonesia dan aspek-aspek kemampuan berbahasa.
    1. Pengertian Pembelajaran Bahasa Indonesia
      Pembelajaran merupakan terjemahan dari instructional. Proses memberi rangsangan kepada siswa supaya belajar. Pembelajarn berbeda dengan pengajaran yang merupakan terjemahan dari teaching. Pada proses pengajaran biasanya ada guru yang mengajar siswa, sedangkan dalam pembelajaran tidak selalu demikian. Sesekali siswa harus belajar dari media dan lingkungan yang sesuai dengan tujuan yang inggin dicapai.

      Puji Santoso (2007: 5.18) menjelaskan bahwa pembelajaran bahasa adalah proses memberi rangsangan belajar berbahasa kepada siswa dalam upaya siswa mencapai kemampuan berbahasa. Dapat dipahami bahwa pembelajaran bahasa merupakan suatu kegiatan yang dilakukan guru, dengan cara memberikan rangsangan kepada siswa sebagai upaya untuk meningkatkan kemampuan berbahasa.

      Menurut Tim penyusun kamus pusat bahasa (2005: 88), “Bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer, yang digunakan oleh anggota suatu masyarakat untuk bekerjasama, berinteraksi dan mengidentifikasi diri”.
      Menurut tim penyusun kamus pusat bahasa (2005: 430), “Indonesia adalah bangsa, budaya dan bahasa yang dipakai di Negara Indonesia”.

      Dapat dipahami bahasa Indonesia adalah bahasa yang digunakan di Negara Indonesia untuk berinteraksi dan bekerjasama antar anggota masyarakat. Bahasa sebagai alat komunikasi antar satu orang dengan orang lain. Bahasa digunakan untuk menyampaikan informasi kepada orang lain.

      Novi Resmini (2006: 32), mengungkapkan bahwa pembelajaran kebahasaan ditujukan untuk meningkatkan kemampuan pemahaman penggunaan bahasa. Pembelajaran bahasa perlu memperhatikan prinsip-prinsip pengajaran antara lain adalah pemberian materi pelajaran dari yang mudah ke yang sukar, hal sederhana ke yang rumit, dari yang diketahui ke yang belum diketahui, dari yang konkret ke yang abstrak. Pembelajaran bahasa diarahkan untuk mempertajam kepekaan siswa. Siswa tidak hanya mampu memahami informasi yang disampaikan secara langsung akan tetapi, siswa juga harus memahami informasi yang disampaikan secara tidak langsung. Dapat dikatakan siswa harus dapat memahami informasi yang tersirat dan informasi yang tersurat.

      Nida dan Haris (dalam H. G Tarigan, 1981: 1) mengemukakan pembelajaran bahasa mencakup aspek menyimak, berbicara, membaca dan menulis. Keempat aspek tersebut harus berkembang secara seimbang agar tidak terjadi ketimpangan dalam dalam penguasaan kemampuan berbahasa. Pembelajaran bahasa Indonesia, selain untuk meningkatkan kemampuan berbahasa, juga untuk meningkatkan kemampuan berpikir dan bernalar, serta kemampuan untuk memperluas wawasan.

      Berdasarkan uraian diatas, pembelajaran Bahasa Indonesia adalah suatu proses belajar yang dilakukan siswa dengan cara siswa memberikan respon atas stimulus yang diberikan guru dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia sebagai upaya mencapai kemampuan berbahasa. Siswa harus memahami informasi yang disampaikan secara tersurat dan pesan yang disampaikan secara tersirat. Dalam proses pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah dasar siswa berperan sebagai subjek, jadi siswa aktif belajar sedangkan guru bertindak sebagai fasilitator.

    2. Aspek-Aspek Kemampuan Berbahasa
    3. Standar kompetensi pelajaran Bahasa Indonesia SD dan MI terdiri dari 4 aspek yaitu: aspek mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis. Hal tersebut senada dengan pendapat Nida dan Haris (dalam H. G Tarigan, 1981: 1) yang menyatakan bahwa kemampuan berbahasa mempunyai 4 komponen yaitu:
      1. Kemampuan menyimak (Listening skills)
      2. Menyimak merupakan kegiatan mendengarkan dan memahami isi bahan simakan. Tujuan menyimak adalah memahami informasi, pesan, ide, dan gagasan yang terdapat dalam bahan simakan. Kemampuan menyimak merupakan kemampuan utama yang harus dikuasai seseorang sebelum menguasai ketiga kemampuan lainnya.
      3. Kemampuan berbicara (Speaking skills)
      4. Berbicara adalah salah satu kemampuan berbahasa yang berkembang dalam kehidupan anak, yang didahului oleh keterampilan menyimak. Berbicara sangat erat hubungannya dengan perkembangan kosa kata yang diperoleh dari kegiatan menyimak dan membaca. Kemampuan berbicara merupakan kemampuan lisan yang penting, karena berbicara merupakan alat komunikasi dengan sesama. Tujuan utama berbicara adalah untuk berkomunikasi. Oleh karena itu, agar dapat menyampaikan pikiran secara efektif, seharusnya pembicara memahami makna segala yang ingin dikomunikasikan.
      5. Kemampuan membaca (Reading skills)
      6. Membaca merupakan aktivitas memahami bahasa tulis. kegiatan membaca dilakukan untuk mengolah pesan yang terdapat dalam tulisan. Pembelajaran membaca di SD merupakan suatu kegiatan peningkatan kemampuan siswa dalam kemampuan membaca. Melalui kegiatan pembelajaran membaca, siswa diharapkan memiliki kemampuan membaca.
      7. Kemampuan menulis (Writing skills)
      8. Menulis merupakan kemampuan berbahasa tulis dan sebagai salah satu dari empat kemampuan berbahasa. Menulis ditandai oleh serangkaian kegiatan yang bertahap saat seseorang mengkomunikasikan pesan kedalam tulisan. Setiap kemampuan tersebut mempunyai hubungan yang erat dengan tiga kemampuan lainnya dengan cara yang beraneka ragam.
      Dalam memperoleh kemampuan berbahasa, biasanya melalui suatu hubungan urutan yang teratur: mula-mula pada masa kecil belajar menyimak bahasa, kemudian berbicara, sesudah itu belajar membaca dan menulis. Keempat kemampuan tersebut pada dasarnya merupakan satu kesatuan, merupakan catur tunggal.
    Ternyata pelajaran bahasa sangat berperan dalam melatih kepekaan siswa. Melalui pembelajaran bahasa, siswa dilatih untuk memahami berbagai pesan, baik yang tersurat maupun yang tersirat.
    Jadi, jangan pandang sebelah mata pelajaran Bahasa Indonesia.
    Wassalamu'alaikum....

    Daftar Pustaka :

    1. Resmini, Novi. 2006. Bahan Belajar Mandiri: Pembinaan dan Pengembangan Pembalajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Bandung: UPI Pers.
    2. Tarigan, H. G. 1981. Berbicara Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: CV. Angkasa.